Gaji buruh hanya naik Rp 8 ribu,dari sebelumnya

 VISUAL Batam – Keputusan Pemprov Kepri yang hanya menaikan upah di Batam Rp 8 ribu mengecewakan buruh. Pemerintah diminta harus membedakan gaji buruh untuk sektor industri.

“Kita jelas kecewa dengan keputusan tersebut. Kita sayangkan keputusan Gubernur Kepri itu jelas tidak berpihak pada buruh yang bekerja di sektor industri,” kata Ketua DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Provinsi Kepri, Otong Sutisna dalam perbincangan dengan media online, Senin (28/11/2011) di Batam.

Menurut Otong, serikat pekerja sebenarnya meminta pemerintah untuk membuat pengelompokan bidang usaha. Artinya pemerintah harusnya tidak menyamaratakan antara pekerja di industri Penanaman Modal Asing (PMA) dengan usaha seperti home industri dan pertokoan.

“Yang kita minta selama ini harus ada pemisahan upah buruh industri dengan buruh non industri. Kalau upah buruh nonindustri, dengan upah minum kota Rp 1,3 juta yang mungkin sudah layak,” kata Otong.

Otong menjelaskan, upah minimum kota yang ditetapkan pemerintah daerah selama ini, menjadi acuan para investor asing sebagai upah untuk buruh industri. Padahal, sistem kerja buruh di pertokoan dengan yang ada industri tidak sama.

“Masak pekerja bidang perkapalan dengan yang jaga toko harus disamakan. Dari dulu yang kita tuntut ke pemerintah daerah itu, harus ada pemilihan antara sektor industri dengan non industri,” kata Otong.

Sebelum ada keputusan dari Gubernur Kepri, serikat pekerja di Batam sudah menduga tuntutan buruh tidak akan terealisasi. Ini karena, pemerintah daerah belum membuat perbedaan tersebut.

“Kita tidak kaget, kalau naiknya hanya Rp 8 ribu. Karena yang kita minta itu, harus ada perbedaan buruh berdasarkan sektor masing-masing. Apa yang telah diputuskan gubernur itu, jelas mengecewakan buruh. Yang kita tuntut adanya kenaikan Rp 400 ribu, sangat jauh dari harapan kita,” kata Otong kecewa.

Otong menyebut, keputusan tersebut, tentulah tidak akan diterima buruh industri. Sehingga aliansi serikat pekerja di Batam akan terus berjuang menuntut adanya pengelompokan buruh berdasarkan sektor masing-masing.

“Masa iya kita bekerja di perusahaan asing dan hasil produksinya untuk tujuan ekspor, tapi gaji kita disetarakan dengan pekerja nonindustri. Ini jelas tidak adil buat buruh,” kata Otong.(dc/abt)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s